VOKASI NEWS – Mahasiswa aktif organisasi buktikan bahwa pengalaman kepanitiaan bukan sekadar nilai tambah di CV, melainkan modal nyata untuk bergabung sebagai crew wedding organizer. Di balik kesibukan rapat organisasi kampus dan jadwal komite yang padat, terdapat aset berharga yang semakin banyak dimanfaatkan mahasiswa untuk menghasilkan pendapatan.
Tren ini semakin terlihat di kalangan Generasi Z yang memanfaatkan keahlian organisasi kampus untuk bergabung sebagai kru wedding organizer (WO). Selain itu, pekerjaan tersebut juga memberikan potensi penghasilan sampingan. Bisnis pernikahan di Indonesia pun berkembang pesat.
Kebutuhan jasa wedding organizer profesional menciptakan peluang karier bagi mahasiswa yang terbiasa menyelenggarakan acara dan mengoordinasikan tim. Keterampilan tersebut umumnya dikembangkan melalui kegiatan organisasi kampus.
Pengalaman Sebagai Crew Wedding Organizer
Alysia Amalia, merupakan mahasiswi aktif dalam Program Studi D4 Manajemen Perkantoran Digital. Mahasiswa yang kerap dipanggil Icha menjadi salah satu anak muda yang menunjukkan bahwa soft skill dari organisasi kampus memiliki nilai jual tinggi. Saat ini, Icha aktif terlibat dalam tim penyelenggara pernikahan, di mana Icha menangani kebutuhan teknis dan koordinasi lapangan untuk setiap acara pernikahan.
“Awalnya saya tidak menyangka kalau pengalaman jadi panitia acara kampus bisa dapat berguna. Tapi ternyata skillnya sangat relevan, mulai dari koordinasi dengan tim, komunikasi dengan vendor, sampai handle situasi mendadak di hari H. Itu semua sudah saya rasakan saat berorganisasi”. Icha mengungkapkan bahwa keputusannya bergabung sebagai crew WO bukan tanpa alasan.
Melainkan karena ingin menghasilkan uang tambahan, namun Icha ingin pekerjaan yang selaras dengan minat dan kemampuannya. Latar belakang studinya di Manajemen Perkantoran Digital pun turut memperkuat kemampuannya dalam hal administrasi, koordinasi, dan pengelolaan informasi secara efisien di lapangan.
“Daripada mencari freelance yang tidak ada sesuai minat dan bakat, saya pikir kenapa tidak mencoba jadi crew WO. Saya menganggap bahwa mampu mengatur acara, terbiasa berkomunikasi dengan banyak orang. Ternyata dari pengalaman organisasi tersebut membuat saya dipercaya untuk bergabung dalam sebuah tim” ungkap Icha.
Organisasi Kampus dan Relevansinya di Dunia Kerja
Fenomena ini bukan tanpa alasan kuat. Organisasi kemahasiswaan secara tidak langsung melatih anggotanya pada sejumlah kompetensi inti yang sangat dibutuhkan dalam industri event, khususnya pernikahan. Kemampuan komunikasi, negosiasi, pemecahan masalah, dan manajemen tekanan menjadi bekal mahasiswa aktif organisasi yang dibutuhkan tim WO profesional.
Di sisi lain, tren bergabung sebagai crew WO di kalangan Gen Z juga didorong oleh fleksibilitas jam kerja yang cocok dengan jadwal perkuliahan. Pekerjaan ini umumnya berlangsung pada akhir pekan, sehingga tidak mengganggu aktivitas akademis. Bagi Icha, pemahaman digital yang dipelajari di bangku kuliah pun menjadi keunggulan tersendiri dalam mendukung tugasnya sebagai crew WO secara lebih terstruktur.
“Jadi crew WO itu menurut saya sangat cocok untuk yang mahasiswa aktif di organisasi, namun sebenarnya tidak harus begitu. Tapi di dalam organisasi kita sudah terbiasa kerja tim, terbiasa dengan situasi tidak terduga. Ditambah lagi dengan penerapan ilmu prodi yang dilakukan di lapangan” ucap Icha.
Pentingnya Kompetensi Non-Formal bagi Mahasiswa Vokasi
Hal ini dapat dijadikan cerminan bahwa dunia vokasi tidak selalu harus dimaknai secara sempit. Pengalaman non-akademis yang ditempa lewat organisasi, kepanitiaan, dan kerja tim ternyata memiliki daya saing nyata di pasar kerja. Program studi D4 seperti Manajemen Perkantoran Digital pun semakin relevan ketika mahasiswanya mampu mengintegrasikan ilmu akademis dengan kecakapan praktis di lapangan.
Ke depan, fenomena mahasiswa yang bergabung sebagai crew WO berbekal pengalaman organisasi kampus ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak lembaga pendidikan vokasi untuk semakin mengakui dan mengembangkan jalur kompetensi non-formal sebagai bagian integral dari kesiapan kerja mahasiswa.
[BACA JUGA: Studi Banding HIMA Manajemen Pemasaran UNAIR & HIMA Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya]
Penulis: Alysia Amalia
Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)



