Peran Aktivitas Fisik dan IMT untuk Fungsi Paru

VOKASI NEWS – Gaya hidup selama masa perkuliahan sering mengalami perubahan. Jadwal kuliah yang padat, tugas akademik, dan aktivitas organisasi membuat sebagian mahasiswa mengurangi aktivitas fisik. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan, termasuk fungsi sistem pernapasan.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan sebanyak 37,4 persen penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas masih kurang melakukan aktivitas fisik. Angka tersebut menjadi perhatian karena aktivitas fisik memiliki peran penting dalam menjaga kebugaran tubuh dan kesehatan paru.

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Program Studi DIV Fisioterapi Fakultas Vokasi Universitas Airlangga melakukan penelitian mengenai hubungan aktivitas fisik dan indeks massa tubuh (IMT) terhadap fungsi paru pada mahasiswi.

Aktivitas Fisik Berkaitan dengan Fungsi Paru

Penelitian dilaksanakan pada Februari hingga Maret 2026 dengan melibatkan 68 mahasiswi aktif berusia 18–22 tahun. Tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), sedangkan fungsi paru dinilai melalui Peak Expiratory Flow Rate (PEFR) menggunakan peak flow meter.

Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara aktivitas fisik dan nilai PEFR (r = 0,625; p < 0,01). Temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi aktivitas fisik seseorang, semakin baik pula kemampuan paru dalam mengeluarkan udara secara maksimal.

Aktivitas fisik diketahui mampu meningkatkan kekuatan otot pernapasan, memperbaiki kapasitas ventilasi, serta meningkatkan efisiensi pertukaran oksigen di dalam paru. Oleh karena itu, olahraga rutin menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga fungsi sistem pernapasan.

Indeks Massa Tubuh Juga Memengaruhi PEFR

Selain aktivitas fisik, penelitian ini juga menganalisis pengaruh indeks massa tubuh terhadap fungsi paru. Hasil analisis Pearson menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara IMT dan PEFR (r = -0,245; p = 0,044). Artinya, semakin tinggi IMT, semakin rendah kemampuan ekspirasi paksa yang diukur melalui PEFR.

Peningkatan IMT dapat menyebabkan penumpukan lemak di area perut. Kondisi tersebut membatasi gerakan diafragma dan mengurangi kemampuan rongga dada untuk mengembang secara optimal. Akibatnya, kapasitas paru ikut menurun.

Fenomena tersebut dikenal sebagai Obesity Hypoventilation Syndrome atau Pickwickian Syndrome, yaitu gangguan pernapasan kronis akibat meningkatnya beban mekanik pada sistem pernapasan.

Pentingnya Menjaga Aktivitas Fisik dan Berat Badan Ideal

Penelitian juga menemukan bahwa rata-rata nilai PEFR responden mencapai 268,8 liter per menit. Nilai tersebut masih berada di bawah kisaran ideal perempuan dewasa, yaitu sekitar 300–450 liter per menit. Temuan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang masih berada pada kategori sedang dan IMT rata-rata sebesar 23,03 kg/m² belum mampu menghasilkan fungsi paru yang optimal.

Peneliti menyarankan mahasiswa untuk memenuhi rekomendasi aktivitas fisik dari World Health Organization (WHO) serta menjaga IMT tetap berada pada rentang normal. Pemantauan rutin terhadap aktivitas fisik dan berat badan juga dapat menjadi langkah preventif dalam menjaga kesehatan paru sejak usia muda.

Kesadaran menerapkan gaya hidup aktif tidak hanya meningkatkan kebugaran, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk menjaga fungsi sistem pernapasan dan kualitas hidup.

[BACA JUGA: Daun Katuk, Solusi Alami Atasi Anemia pada Wanita Muda]

Penulis: Galih Satria Adiyoga

Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)