VOKASI NEWS – Lingkungan kerja dengan aktivitas pemotongan, penggerindaan, dan penghalusan material berpotensi menghasilkan debu halus atau Particulate Matter (PM2.5), yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat terhirup hingga mencapai alveolus di paru-paru. Semakin tinggi konsentrasi partikel di udara dan semakin lama paparan yang diterima, semakin besar pula risiko terjadinya gangguan pada sistem pernapasan.
Kondisi Paparan PM2.5 dan Faal Paru Pekerja di PT X
Kondisi tersebut juga terlihat di workshop PT X. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa kadar PM2.5 di area produksi di atas Nilai Ambang Batas (NAB), sedangkan area finishing masih berada di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) yang ditetapkan. Meskipun demikian, sebagian besar pekerja masih memiliki kondisi faal paru yang normal. Temuan ini menunjukkan bahwa kesehatan paru tidak hanya dipengaruhi oleh kadar PM2.5 di lingkungan kerja, tetapi juga oleh faktor lain yang saling berkaitan.
Peran Kepatuhan Penggunaan APD dalam Melindungi Kesehatan Paru
Kepatuhan dalam menggunakan APD, khususnya masker respirator, menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan paru pekerja. Gangguan fungsi paru hanya ditemukan pada pekerja yang tidak patuh dalam penggunaan alat pelindung diri (APD). Hal ini menunjukkan bahwa masker respirator berperan sebagai perlindungan terakhir untuk mengurangi paparan debu di lingkungan kerja.
Faktor Individu yang Memengaruhi Fungsi Paru
Selain kepatuhan penggunaan APD, kondisi individu juga berperan dalam menentukan kesehatan paru. Usia, masa kerja, status gizi, dan kebiasaan merokok merupakan beberapa faktor yang dapat memengaruhi fungsi paru. Di samping itu, setiap pekerja memiliki daya tahan tubuh, tingkat kerentanan, dan kemampuan toleransi yang berbeda terhadap agent kimia di lingkungan kerja. Perbedaan kondisi kesehatan dan faktor genetik pada setiap individu juga turut memengaruhi respons tubuh terhadap paparan tersebut. Oleh karena itu, risiko terjadinya gangguan fungsi paru dapat berbeda pada setiap pekerja.
Upaya Pencegahan dan Pemeliharaan Kesehatan Paru Pekerja
Upaya menjaga kesehatan paru tidak cukup hanya dengan menggunakan masker respirator. Perusahaan juga perlu memastikan sistem ventilasi (exhaust blower) berfungsi dengan baik melalui pemeliharaan rutin serta evaluasi berkala terhadap area kerja. Pemeriksaan kesehatan secara berkala, termasuk spirometri, juga penting dilakukan untuk mendeteksi gangguan fungsi paru sejak dini. Selain itu, pekerja juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan paru melalui penggunaan APD secara benar dan konsisten, penerapan pola hidup sehat, serta mengurangi kebiasaan merokok untuk membantu menurunkan risiko gangguan fungsi paru.
[BACA JUGA: HIMTIGOIN’ 2026: Eksplorasi Tantangan Nyata Dunia IT Bersama ORDO Apps]
Penulis: Alya Putri Damayanti
Pembimbing: Indah Lutfiya, S.KM., M.Kes
Editor: Aghnia Faizatus (Tim Branding Vokasi)



