VOKASI NEWS – Coal Handling Process di area jetty tampak seperti rutinitas biasa: conveyor bergerak, crusher menghaluskan bongkahan, stockpile menumpuk material, dan kapal berlabuh menunggu muatan. Namun di balik rutinitas tersebut, potensi bahaya mengintai hampir di setiap titik proses. Debu batu bara yang mudah terbakar, panas yang terperangkap di tumpukan stockpile, hingga peralatan yang bekerja nonstop dalam kapasitas tinggi menyimpan berbagai risiko. Risiko tersebut tidak selalu tampak oleh mata. Ketika satu titik dalam rangkaian proses coal handling terganggu, dampaknya dapat merambat ke seluruh sistem, mulai dari gangguan produksi hingga kecelakaan kerja yang fatal.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam kajian bertajuk Studi Hazard and Operability pada Coal Handling Process di Area Jetty Tambang Batu Bara PT X. Kajian ini menyoroti bagaimana risiko pada aktivitas penerimaan, penghancuran, penumpukan, pengambilan kembali. Sehingga pemuatan batu bara dapat diidentifikasi secara sistematis sebelum berkembang menjadi insiden yang lebih besar.
Ketika Deviasi Kecil Berpotensi Jadi Persoalan Besar
Coal handling process bukan sekadar rangkaian mesin yang bekerja berurutan, melainkan sistem yang saling bergantung satu sama lain. Sedikit penyimpangan pada satu titik, misalnya aliran material yang berkurang, level tumpukan yang melebihi batas, atau suhu peralatan yang meningkat, dapat memicu efek berantai ke tahap berikutnya.
Melalui metode Hazard and Operability Study (HAZOP) yang dibantu perangkat lunak PHA-Pro, kajian ini memetakan lima node utama pada proses coal handling di area jetty PT X. Kelima node tersebut meliputi Receiving and Primary Feeding, Conveying and Crushing, Coal Stacking at Stockpile, Reclaiming Process to On-Ground Feeder, serta Barging.
Dari lima node tersebut, teridentifikasi 58 skenario bahaya yang berasal dari berbagai bentuk deviasi operasional. Deviasi tersebut meliputi less flow, more flow, high level, equipment failure, overheating, hingga stockpile self-heating. Skenario-skenario itu bukan sekadar catatan teknis di atas kertas, melainkan gambaran nyata bagaimana kelalaian kecil dapat berkembang menjadi gangguan produksi dan kerusakan alat. Kondisi tersebut bahkan dapat memicu kebakaran maupun ledakan debu batu bara yang mudah terbakar.
Risiko yang Tidak Boleh Dianggap Remeh
Penilaian risiko menggunakan software PHA-Pro menunjukkan bahwa dari 58 skenario bahaya, dua skenario atau 3,44 persen tergolong kategori extreme risk. Dua belas skenario atau 20,69 persen termasuk kategori high risk. Sementara sisanya berada pada kategori medium risk.
Meskipun jumlah risiko ekstrem dan tinggi tampak kecil secara persentase, konsekuensi yang ditimbulkan tidak bisa dipandang sebelah mata. Potensi ledakan debu batu bara serta kegagalan peralatan pada wheel loader menjadi dua skenario dengan tingkat risiko tertinggi.
Sementara itu, stockpile self-heating, overfilling stockpile, crusher overload, dan overheating mendominasi kategori risiko tinggi. Fakta ini menegaskan bahwa risiko besar sering kali tidak lahir dari kejadian tunggal yang dramatis, melainkan dari akumulasi deviasi kecil yang dibiarkan berulang tanpa pengendalian yang memadai.
Safeguard yang Ada Belum Sepenuhnya Cukup
Existing safeguard yang telah diterapkan PT X, mulai dari engineering safeguard, administrative safeguard, hingga penggunaan alat pelindung diri, terbukti mampu menekan sebagian besar risiko ke kategori medium. Namun, sejumlah risiko kategori high dan extreme masih ditemukan setelah evaluasi safeguard. Kondisi ini menunjukkan pengendalian yang ada belum sepenuhnya memadai.
Kondisi tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 26 Tahun 2018 tentang penerapan manajemen risiko. Regulasi tersebut mewajibkan pemegang izin usaha pertambangan menerapkan kaidah pertambangan yang baik. Penguatan sistem monitoring, preventive maintenance, dan condition monitoring pada peralatan kritis perlu segera diprioritaskan. Penyempurnaan prosedur operasional standar juga diperlukan untuk mendukung pengendalian risiko.
Keselamatan Proses Dimulai dari Kesadaran akan Risiko Tersembunyi
Kajian ini pada akhirnya mengingatkan bahwa keselamatan pada proses industri seperti coal handling tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman operasional semata. Identifikasi bahaya yang sistematis, seperti melalui metode HAZOP berbantuan PHA-Pro, memberikan gambaran menyeluruh tentang titik-titik rawan. Titik-titik tersebut mungkin luput dari pengamatan sehari-hari.
Evaluasi berkala terhadap dokumen HAZOP perlu dilakukan, terutama saat terjadi perubahan kapasitas produksi, modifikasi peralatan, atau penambahan fasilitas baru. Langkah ini menjaga pengendalian risiko tetap relevan dengan kondisi operasional terkini.
[BACA JUGA: Pengetahuan K3 Bukan Sekadar Formalitas,tetapi Kunci Keselamatan Pekerja Pengguna Klorin]
Penulis: Hanif Akbar Fadillah
Pembimbing: Tofan Agung Eka Prasetya
Editor: Vioretha (Tim Branding Vokasi)



