Berat Badan Turun, Akurasi Radioterapi Kanker Nasofaring Ikut Berubah

Berat Badan Turun, Akurasi Radioterapi Kanker Nasofaring Ikut Berubah

VOKASI NEWS – Kanker nasofaring merupakan salah satu kanker kepala dan leher yang banyak ditemukan di Indonesia. Radioterapi dengan teknik Intensity-Modulated Radiation Therapy (IMRT) telah menjadi salah satu standar dalam pengobatan kanker. Teknik ini mampu mengarahkan radiasi secara lebih presisi pada jaringan tumor sekaligus meminimalkan paparan radiasi pada organ sehat di sekitarnya. Teknik ini menuntut ketepatan posisi pasien selama setiap sesi penyinaran agar dosis radiasi tetap sesuai rencana.

Selama menjalani radioterapi, sebagian besar pasien mengalami penurunan berat badan. Kondisi tersebut umumnya disebabkan oleh berbagai efek samping terapi, seperti nyeri saat menelan, mulut kering, gangguan pengecapan, dan penurunan nafsu makan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan perubahan bentuk anatomi tubuh pasien selama menjalani pengobatan. Perubahan anatomi yang terjadi berpotensi menggeser posisi target penyinaran dari lokasi yang telah direncanakan sebelumnya. Oleh karena itu, perubahan anatomi menjadi perhatian utama karena dapat memengaruhi ketepatan dan keberhasilan terapi radioterapi.

Mengapa Perubahan Berat Badan Perlu Dipantau?

Analisis dilakukan terhadap sepuluh pasien kanker nasofaring yang menjalani radioterapi IMRT menggunakan LINAC Varian Halcyon di Rumah Sakit Indriati Solo Baru. Pengamatan dilakukan sejak fraksi kedua hingga fraksi ke-33 selama rangkaian terapi radioterapi. Perubahan berat badan dan hasil verifikasi posisi pasien dibandingkan dengan penyinaran pertama yang digunakan sebagai acuan.

Hasil menunjukkan rata-rata berat badan pasien turun dari 58,00 kilogram menjadi 50,42 kilogram selama rangkaian terapi. Penurunan rata-rata mencapai 7,58 kilogram atau sekitar 13,1 persen. Bersamaan dengan perubahan tersebut ditemukan pergeseran geometri rata-rata sebesar 0,20 cm pada sumbu lateral, 0,28 cm pada sumbu longitudinal, dan 0,33 cm pada sumbu vertikal.

Analisis statistik memperlihatkan hubungan yang sangat kuat antara penurunan berat badan dengan pergeseran pada sumbu lateral serta hubungan kuat pada sumbu vertikal. Hubungan pada sumbu longitudinal tergolong lemah, tetapi tetap signifikan secara statistik. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perubahan berat badan selama radioterapi berpengaruh terhadap ketepatan posisi penyinaran, terutama pada dua sumbu utama yang menentukan akurasi terapi.

Dampak Penurunan Berat Badan bagi Pelayanan Radioterapi

Pedoman radioterapi modern menekankan bahwa perubahan anatomi selama terapi dapat menyebabkan ketidaksesuaian antara rencana penyinaran dan kondisi pasien. Oleh karena itu, pemantauan berat badan secara rutin serta verifikasi posisi sebelum penyinaran menjadi bagian penting untuk mempertahankan akurasi distribusi dosis radiasi. (The Royal College of Radiologists, 2021).

Temuan ini memperkuat pentingnya evaluasi kondisi fisik pasien selama seluruh rangkaian radioterapi. Penurunan berat badan tidak hanya menjadi indikator status nutrisi, tetapi juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi keberhasilan penyampaian dosis radiasi pada teknik IMRT. Pemantauan yang konsisten diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan radioterapi sekaligus mengoptimalkan peluang keberhasilan terapi kanker nasofaring.

[BACA JUGA: Klasifikasi Kanker Payudara pada Citra Ultrasonografi Berbasis Deep Learning Inception-V4]

Penulis: Khulud Mahmudach Hapsari Yassalim

Pembimbing: Ayub Manggala Putra dan Weni Purwanti

Editor: Aghnia Faiza (Tim Branding Vokasi)