VOKASI NEWS – Nyeri punggung bawah atau low back pain menjadi salah satu keluhan yang sering dialami pekerja dengan aktivitas fisik tinggi. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan produktivitas kerja.
Melihat kondisi tersebut, Ahmad Ivan Setyono, mahasiswa Program Studi D4 Pengobatan Tradisional Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, melakukan penelitian mengenai efektivitas elektroakupunktur terhadap nyeri dan disabilitas pada buruh pabrik di Kecamatan Plumpang, Tuban. Penelitian ini dilakukan pada buruh pabrik yang mengalami low back pain nonspesifik akut.
Penelitian menggunakan desain true experimental dengan metode pre test-post test dan kelompok kontrol. Sebanyak 26 responden yang memenuhi kriteria penelitian dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kelompok kontrol untuk melihat perbedaan hasil setelah intervensi diberikan.
Elektroakupunktur sebagai Alternatif Terapi Nonfarmakologis
Penanganan low back pain umumnya menggunakan obat antiinflamasi nonsteroid atau OAINS. Namun, penggunaan dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai efek samping. Oleh karena itu, diperlukan alternatif terapi yang lebih aman dan minim risiko.
Salah satu metode yang digunakan adalah elektroakupunktur. Teknik ini merupakan pengembangan akupunktur tradisional dengan tambahan stimulasi listrik untuk meningkatkan efek terapi. Dalam penelitian ini, intervensi dilakukan pada titik BL23 (Shenshu) dan GV3 (Yaoyangguan) menggunakan gelombang Dense–Disperse dengan frekuensi 20/100 Hz.
Metode tersebut dirancang untuk menggabungkan efek pereda nyeri jangka pendek dan jangka panjang sehingga diharapkan mampu memberikan hasil terapi yang lebih optimal.
Hasil Penelitian Tunjukkan Penurunan Nyeri
Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan pada tingkat nyeri responden setelah mendapatkan terapi elektroakupunktur. Penurunan tersebut diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dengan nilai signifikansi p < 0,05.
Selain itu, tingkat disabilitas yang diukur menggunakan Oswestry Disability Index (ODI) juga mengalami penurunan signifikan dengan nilai p < 0,05. Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan kemampuan responden dalam melakukan aktivitas sehari-hari setelah mendapatkan terapi.
Perbandingan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol juga menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik. Temuan ini memperlihatkan bahwa elektroakupunktur memberikan manfaat terhadap penurunan nyeri sekaligus perbaikan fungsi aktivitas pada responden.
Berpotensi Mendukung Produktivitas Pekerja
Secara fisiologis, efek elektroakupunktur berkaitan dengan aktivasi sistem penghambat nyeri, peningkatan pelepasan opioid endogen, serta mekanisme modulasi nyeri pada sistem saraf. Kombinasi tersebut membantu mengurangi persepsi nyeri dan meningkatkan kenyamanan pasien.
Dari perspektif Traditional Chinese Medicine (TCM), stimulasi pada titik BL23 dan GV3 berperan dalam memperlancar aliran energi pada area lumbal serta membantu menjaga keseimbangan fungsi tubuh.
Berdasarkan hasil penelitian, elektroakupunktur berpotensi menjadi alternatif terapi nonfarmakologis yang aman dan efektif bagi pekerja dengan aktivitas fisik tinggi. Temuan ini juga membuka peluang pemanfaatan terapi komplementer untuk membantu meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas pekerja yang mengalami low back pain nonspesifik akut.
[BACA JUGA: Arsipku, Identitasku, Masa Depanku: Menanamkan Kesadaran Arsip Sejak Usia Dini]
Penulis: Ahmad Ivan Setyono
Editor: Cheiza Xaviera (Tim Branding Vokasi)



