VOKASI NEWS – Siapa yang tidak mengenal koyo? Ketika mengalami pegal, nyeri otot, atau nyeri sendi, banyak masyarakat memilih menggunakan koyo untuk membantu meredakan keluhan tersebut. Produk ini juga mudah ditemukan di apotek, toko obat, maupun minimarket. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa koyo termasuk dalam transdermal patch, yaitu salah satu bentuk sediaan obat yang dirancang untuk menghantarkan zat aktif melalui kulit. Meskipun terlihat sederhana, penggunaan transdermal patch perlu dilakukan dengan benar agar manfaat terapinya dapat diperoleh secara optimal.
Transdermal patch merupakan sistem penghantaran obat yang memungkinkan zat aktif masuk ke dalam sirkulasi darah melalui lapisan kulit secara bertahap dan terkontrol. Berbeda dengan obat oral yang harus melewati saluran pencernaan, transdermal patch melepaskan obat secara perlahan sehingga memberikan efek yang lebih stabil dalam jangka waktu tertentu. Selain mudah digunakan, sediaan ini juga memiliki risiko yang relatif lebih rendah dibandingkan beberapa rute pemberian obat lainnya (Wong dkk., 2023). Oleh karena itu, transdermal patch dapat digunakan secara mandiri. Namun demikian, masih banyak masyarakat yang belum menggunakannya dengan tepat.
Kesalahan yang Masih Sering Terjadi
Salah satu kesalahan yang masih sering ditemukan adalah anggapan bahwa semakin lama koyo ditempel, semakin baik pula efeknya. Padahal, setiap produk memiliki aturan penggunaan dan durasi pemakaian yang berbeda. Penggunaan melebihi waktu yang dianjurkan tidak selalu meningkatkan efektivitas terapi. Sebaliknya, setiap transdermal patch telah dirancang untuk melepaskan obat dalam durasi tertentu (Viglione & Kiapour, 2024). Oleh karena itu, petunjuk penggunaan pada kemasan perlu diperhatikan sebelum produk digunakan.
Kesalahan lain yang juga cukup sering terjadi adalah menempelkan transdermal patch pada kulit yang mengalami luka, iritasi, atau ruam. Padahal, produk ini hanya dianjurkan digunakan pada kulit yang utuh, bersih, dan sehat. Sementara itu, area kulit yang mengalami luka atau ruam sebaiknya dihindari karena dapat memengaruhi proses penyerapan obat (Taylor dkk., 2023). Dengan demikian, kondisi kulit perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum patch ditempelkan.
Gunakan Sesuai Aturan
Sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa menggunakan lebih dari satu transdermal patch sekaligus dapat menghasilkan efek yang lebih kuat. Padahal, dosis obat yang dilepaskan telah dirancang secara khusus oleh produsen. Penggunaan yang tidak sesuai anjuran dapat meningkatkan penyerapan obat secara berlebihan. Akibatnya, risiko overdosis maupun toksisitas juga dapat meningkat (Khan & Sharman, 2024).
Sebagai konsumen, masyarakat perlu membiasakan diri membaca informasi pada kemasan sebelum menggunakan obat. Selain itu, konsultasi dengan apoteker atau tenaga kesehatan menjadi langkah yang tepat apabila masih terdapat keraguan mengenai cara penggunaan transdermal patch. Pada akhirnya, penggunaan yang benar akan membantu memperoleh manfaat terapi secara optimal sekaligus meminimalkan risiko yang dapat terjadi.
Sumber
Khan, S., & Sharman, T. (2024). Transdermal Medications. StatPearls Publishing.
Taylor, K. P., Singh, K., & Goyal, A. (2023). Fentanyl Transdermal. StatPearls Publishing.
Viglione, J. F., & Kiapour, A. (2024). Controlled Release Transdermal Patch. IEEE URTC.
Wong, W. F., Ang, K. P., Sethi, G., & Looi, C. Y. (2023). Recent Advancement of Medical Patch for Transdermal Drug Delivery. Medicina, 59(4), 778.
[BACA JUGA: Dari Awam Jadi Paham: Suksesnya Penyuluhan Penggolongan Obat Bersama Ibu PKK Graha Bunder Asri]
Penulis: Arya Prajna Dharma
Pembimbing: Hafna Ilmy Muhalla
Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)



