VOKASI NEWS – Kas menjadi aset yang paling likuid dan paling sering berpindah tangan dalam sebuah perusahaan. Sifatnya yang mudah digunakan membuat kas rentan terhadap kesalahan pencatatan maupun penyalahgunaan. Kondisi ini terjadi pada PT X, perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan logam dan tembaga. Pemeriksaan kas fisik atau cash opname yang dilakukan pada awal Maret 2026 menemukan selisih sebesar Rp2.000.000 antara saldo kas fisik dan saldo pada catatan kas perusahaan.
Selisih Ditemukan Saat Pemeriksaan Kas
Selisih tersebut muncul akibat keterlambatan pencatatan transaksi kas harian. Transaksi baru dicatat setelah seluruh pekerjaan operasional selesai, bukan pada hari yang sama saat transaksi terjadi. Sistem pencatatan kas di PT X juga masih dilakukan secara manual sehingga risiko kesalahan nominal maupun kesalahan perhitungan saldo menjadi lebih tinggi. Kondisi ini diperparah dengan belum adanya fungsi pengawasan internal yang independen di perusahaan.
Evaluasi dengan Kerangka COSO
Untuk menilai efektivitas pengendalian internal, evaluasi dilakukan dengan membandingkan kondisi lapangan dengan lima komponen utama kerangka COSO (Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission), yaitu lingkungan pengendalian, penilaian risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kelima komponen tersebut masih tergolong belum sesuai dengan standar yang ditetapkan COSO.
Pada aspek lingkungan pengendalian, PT X belum memiliki struktur organisasi yang jelas. Pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab antarbagian belum terdokumentasi dengan baik, bahkan terdapat perangkapan tugas antara bagian administrasi dan bagian keuangan yang dikerjakan oleh satu orang. Penilaian risiko juga belum dilakukan secara sistematis, sehingga potensi keterlambatan pencatatan maupun kecurangan belum teridentifikasi sejak awal.
Aktivitas pengendalian di lapangan turut menunjukkan kelemahan yang serupa. Rekonsiliasi kas tidak dilakukan secara rutin sehingga selisih antara kas fisik dan catatan tidak dapat terdeteksi lebih awal. Pengawasan terhadap pengelolaan kas pun hanya dilakukan sesekali oleh manajer, bukan oleh fungsi audit internal yang independen.
Salah satu staf keuangan PT X menjelaskan bahwa transaksi terkadang baru dicatat setelah pekerjaan operasional selesai, karena banyaknya aktivitas operasional yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Keterangan tersebut sejalan dengan temuan bahwa perusahaan belum memiliki Standard Operating Procedure (SOP) tertulis mengenai batas waktu pencatatan transaksi kas.
Rekomendasi Perbaikan
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, sejumlah perbaikan direkomendasikan agar pengelolaan kas PT X dapat berjalan lebih efektif. Pertama, penyusunan struktur organisasi yang jelas disertai pembentukan fungsi audit internal untuk mengawasi pengelolaan kas secara independen. Kedua, penyusunan SOP kas yang mengatur batas waktu pencatatan transaksi, sehingga setiap transaksi wajib dicatat pada hari yang sama dengan terjadinya transaksi. Ketiga, transisi dari sistem pencatatan manual menuju sistem pencatatan yang terkomputerisasi guna menekan risiko kesalahan pencatatan.
Perbaikan pada komponen pemantauan juga disarankan melalui pelaksanaan cash opname secara berkala. Selain itu, perlu dibentuk mekanisme pelaporan dan tindak lanjut apabila ditemukan selisih maupun penyimpangan kas. Langkah-langkah ini diharapkan dapat memperkuat sistem pengendalian internal PT X agar kesalahan pencatatan seperti selisih Rp2.000.000 tersebut tidak berulang di kemudian hari.
Temuan ini menegaskan bahwa kepemilikan sistem pengendalian internal saja belum cukup jika tidak diikuti dengan penerapan yang konsisten. Perusahaan perdagangan dengan volume transaksi kas yang tinggi seperti PT X memerlukan kombinasi antara prosedur tertulis, teknologi pencatatan, dan fungsi pengawasan yang berjalan secara berkelanjutan. Kombinasi tersebut diperlukan agar kas sebagai aset paling likuid dapat dikelola dengan aman.
[BACA JUGA: Di Balik Kredit Macet BPR, Bukan Sekadar Debitur Gagal Bayar, Ini Penyebab Sebenarnya]
Penulis: Feni Cindi Aulia
Pembimbing: Prasetyo Widyo Iswara
Editor: Vioretha (Tim Branding Vokasi)


