VOKASI NEWS – Sepak bola merupakan olahraga dengan intensitas tinggi yang menuntut kombinasi kemampuan teknik, taktik, dan kondisi fisik yang optimal. Dalam satu pertandingan, pemain dituntut untuk terus bergerak dan berlari. Pemain juga harus melakukan perubahan arah secara cepat selama 90 menit.
Kondisi ini menjadikan kebugaran aerobik sebagai salah satu komponen utama yang menentukan performa pemain di lapangan. Aerobic fitness berperan dalam mempertahankan intensitas permainan, mempercepat proses pemulihan, serta mendukung kemampuan pemain dalam melakukan aktivitas berulang selama pertandingan (Modric, Versic, dan Sekulic, 2020).
Hasil Pengukuran Kebugaran Aerobik
Pengukuran kebugaran aerobik pada pemain UKM Sepak Bola Universitas Airlangga memberikan gambaran menarik mengenai kondisi fisik atlet tingkat mahasiswa. Berdasarkan hasil pengukuran menggunakan Bleep Test, nilai VO₂Maks pemain berada pada rentang 33,25 hingga 53,75 ml/kg/menit. Rata-rata nilai yang diperoleh sebesar 43,50 ml/kg/menit.
Mayoritas pemain berada dalam kategori baik (50%) dan sangat baik (30%). Sementara itu, sebagian kecil berada pada kategori sedang dan kurang. Tidak ditemukan pemain dalam kategori sangat kurang. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi kebugaran pemain secara umum sudah cukup memadai.
Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa tingkat VO₂Maks memiliki hubungan erat dengan performa pemain di lapangan, terutama dalam hal jarak tempuh dan daya tahan selama pertandingan (Pratama dan Imanudin, 2018). Semakin tinggi kapasitas aerobik seorang pemain, maka semakin besar kemampuannya untuk mempertahankan performa secara konsisten sepanjang pertandingan.
Perbandingan Berdasarkan Posisi Bermain
Jika dilihat berdasarkan posisi bermain, gelandang tengah (central midfielder) menempati posisi dengan kapasitas aerobik tertinggi. Seluruh pemain pada posisi ini berada dalam kategori sangat baik. Kondisi ini mencerminkan tuntutan peran gelandang. Pemain harus aktif dalam fase menyerang dan bertahan. Oleh karena itu, posisi ini membutuhkan daya tahan lebih tinggi dibandingkan posisi lainnya.
Temuan ini juga sejalan dengan penelitian yang menyebutkan bahwa kebutuhan aerobik berbeda pada setiap posisi, tergantung pada peran dan aktivitas yang dilakukan selama pertandingan (Liu et al., 2021; Wahyudi et al., 2024). Sebaliknya, posisi penjaga gawang (goalkeeper) menunjukkan nilai VO₂Maks yang relatif lebih rendah. Hal ini berkaitan dengan karakteristik permainan penjaga gawang yang lebih menekankan pada refleks, reaksi, dan posisi, dibandingkan dengan aktivitas lari jarak jauh atau intensitas tinggi secara terus-menerus.
Pengaruh Usia dan Indeks Massa Tubuh (IMT)
Selain posisi, faktor usia dan Indeks Massa Tubuh (IMT) juga memberikan pengaruh terhadap kapasitas aerobik. Mayoritas pemain berada pada rentang usia 19–20 tahun. Pada usia 19 tahun, nilai VO₂Maks menunjukkan variasi yang cukup luas, sedangkan pada usia 20–23 tahun cenderung berada pada kategori baik hingga sangat baik. Hal ini menunjukkan adanya perkembangan kapasitas fisik seiring bertambahnya usia dan pengalaman latihan.
Dari sisi IMT, pemain dengan kategori berat badan ideal menunjukkan distribusi VO₂Maks yang lebih baik dibandingkan pemain overweight. Temuan ini didukung oleh penelitian yang menyatakan bahwa peningkatan massa tubuh dapat menurunkan efisiensi penggunaan oksigen selama aktivitas fisik (Trioclarise, Kurniawan, dan Anggreani, 2022). Dengan kata lain, komposisi tubuh yang optimal berkontribusi terhadap performa aerobik yang lebih baik.
Pola Latihan Pemain
Seluruh pemain dalam penelitian ini diketahui telah aktif bermain sepak bola lebih dari satu tahun dengan frekuensi latihan lebih dari dua kali per minggu dan durasi sekitar dua jam setiap sesi. Latihan yang paling dominan dilakukan adalah latihan kelincahan (agility) sebesar 50%. Meskipun demikian, peningkatan kapasitas aerobik masih dapat dioptimalkan melalui program latihan yang lebih terstruktur dan berfokus pada daya tahan.
Rekomendasi dan Pengembangan Penelitian
Ke depannya, evaluasi yang lebih komprehensif perlu dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap terkait kondisi fisik pemain. Pengukuran seperti persentase lemak tubuh, ekspansi sangkar dada, serta analisis asupan nutrisi harian dapat memberikan informasi tambahan yang lebih mendalam.
Selain itu, pengendalian aktivitas fisik sebelum pengambilan data serta analisis riwayat cedera yang lebih detail, termasuk tingkat keparahan dan status pemulihan, menjadi hal penting untuk dipertimbangkan dalam penelitian selanjutnya. Pemetaan kebugaran ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan program latihan yang lebih efektif dan terarah, sehingga mampu meningkatkan performa pemain UKM Sepak Bola Universitas Airlangga secara berkelanjutan.
[BACA JUGA: Game-Based Vision Education: Dissecting Myths and Facts in Society]
Penulis: Anantia Purwaningrum
Pembimbing: I Putu Alit Pawana, Dany Pramuno Putra
Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)



